Pages

Test Footer

Test Footer 2

Blogroll

Blogger templates

Test Footer 1

HENTIKAN CARA YANG SALAH ! INI CARA JITU MENGHADAPI SISWA YANG NAKAL

Siswa yang dianggap nakal oleh guru merupakan masalah cukup pelik dalam proses pendidikan. Keberadaan mereka pada umumnya dianggap sebagai penghambat proses pembelajaran di ruang kelas. 

Oleh sebab itu guru akan selalu mencari alternatif solusi dari permasalahan tersebut. Tentu saja, hasilnya tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Baca juga yang ini: Fenomena Siswa Nakal di Sekolah

Lalu, bagaimana menghadapi siswa nakal di sekolah? Berikut upaya alternatif yang perlu dilakukan oleh guru:

1.Hilangkan label nakal/bandel

Langkah awal yang perlu diupayakan adalah mengurangi atau menghilangklan label bandel atau nakal kepada siswa. Mengapa demikian? Bukan mustahil seorang siswa justru menjadi bangga dicap siswa bandel atau nakal. 

Hal ini berangkat dari asumsi bahwa tidak semua siswa yang merasa terpukul mentalnya dengan julukan tersebut.

2.Sering beraudiensi

Waktu istirahat atau kesempatan kegiatan ekstrakurikuler dan classmeeting merupakan saat yang bagus untuk beraudiensi dengan para siswa. Beraudiensi berarti melakukan sharing dengan siswa sehingga guru tahu apa kecenderungan atau permasalahan yang sering dialami oleh siswa.

3.Berkomunikasi dengan orang tua
Komunikasi orang tua siswa tidak semata dengan kepala sekolah dan wali kelas. Tidak hanya ketika ada undangan rapat komite sekolah. Guru mata pelajaran/guru kelas juga perlu berkomunikasi secara intensif dengan orang tua murid. 

Komunikasi ini akan mempermudah upaya meredam kenakalan siswa di sekolah.

4.Pembelajaran yang menyenangkan

Menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan akan mampu mereduksi kenakalan siswa di kelas maupun di sekolah. Perilaku menyimpang yang dilakukan siswa akan dapat diredam.

5. Perhatian dan pujian verbal

Siswa nakal atau bandel cenderung disebabkan oleh kurangnya perhatian guru terhadap siswa yang dilabeli bandel. Kondisi ini diubah dengan memberikan perhatian khusus kepada mereka. Perhatian ini bukan sekadar memantau perkembangan mereka. 

Lebih dari itu adalah memberikan motivasi dan pujian jika mereka melakukan tindakan positif sekecil apapun. Perhatian dan pujian paling ampuh untuk meredam kebakalan siswa.

Disadari memang, alternatif menghadapi siswa nakal di sekolah bukanlah upaya instant. Namun perlu proses dan waktu serta kesabaran para guru untuk mencobanya. 

Yang menjadi motivasi adalah bahwa siswa yang dianggap nakal belum tentu tidak akan sukses di masa selanjutnya.

Sumber : matrapendidikan

Petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Dalam mendidik Remaja




Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”

7 Gaya Belajar Anak

Dalam memasak, tiap bahan punya karakteristik yang khas. Karakteristik itulah yang membuatnya perlu cara memasak yang berbeda. Meski sama-sama makanan, tapi tekstur, rasa, dan kandungan gizinya tak sama.
Kita bandingkan kangkung dan bayam. Meski keduanya mirip, tapi cara memasaknya beda. Kita bandingkan ikan nila dan ikan bawal. Meski keduanya sama-sama ikan, tapi rasanya beda, ‘kan?
Dalam hidup pun begitu. Meski tujuan setiap orang itu sama — yaitu surga — tapi jalan yang ditempuh tiap orang berbeda-beda. Ada yang unggul dalam daya ingat. Ada yang unggul dalam kekuatan untuk berpuasa sunnah. Ada yang unggul dalam keluangan waktu untuk tilawah Al-Quran. Ada yang unggul dalam berderma. Bahkan, ada yang unggul dalam kekuatan fisik.
Menjalani proses belajar bersama anak juga punya cerita dan jalannya masing-masing, karena tiap anak punya warna yang khas. Anak yang unggul dalam pendengaran, akan lebih cepat menghafal perkataan. Tapi mungkin dia adalah anak yang superaktif dan tak henti bertanya. Anak yang unggul dalam kemampuan membaca, akan lebih cepat menyerap ilmu lewat buku-buku. Tapi mungkin dia adalah anak yang kurang cepat dalam belajar keahlian fisik, seperti memanah atau berenang. Bahkan, satu anak mungkin punya gaya belajar yang beragam karena bakatnya memang beragam.
Tugas kita sebagai orang tua adalah:
1. Mengeneli potensi anak kita.
2. Mengenali kelemahan anak kita.
3. Menggunakan cara dan gaya yang paling pas untuk melejitkan potensinya dan memperbaiki kelemahannya.
Bila orang tua tidak mengenali jenis kecerdasan dan gaya belajar anaknya, orang tua akan cenderung memaksa anak untuk berjalan seperti anak lain yang sukses dalam bidang keahlian tertentu. Misalnya, bila ada anak lain yang sudah bisa baca Al-Quran pada usia 4 tahun sehingga dia mudah menghafal Al-Quran dengan cara membaca mushaf, maka orang tua yang kuran bijak akan cenderung memaksa anaknya sendiri untuk segera bisa mahir membaca Al-Quran, agar bisa hafal Al-Quran sebelum usia baligh. Padahal, boleh jadi anaknya termasuk susah belajar membaca tapi sangat unggul dalam pendengaran. Dengan demikian, bila orang tua tersebut jeli, dia akan mendidik anaknya menghafal Al-Quran dengan cara mendengar. Misalnya, setiap hari orang tua rutin mendudukkan anak untuk mendengar bacaan Al-Quran dari orang tuanya. Atau orang tua rutin memperdengarkan murattal Al-Quran.
Bila orang tua tidak jeli dalam melihat bakat alami dan gaya belajar anak, proses belajar akan menjadi penuh pergulatan emosi. Di satu sisi, orang tua membangun harapan tertentu, tanpa bijak dalam memilih jalan terbaik untuk mencapainya. Di sisi lain, anak menjadi terbebani — bahkan mungkin saja sampai mengalami stres dan tekanan emosi — karena dia dipaksa meraih sesuatu dengan cara yang sulit untuknya. Ibarat anak dengan tinggi 60 cm yang dipaksa mengambil barang di atas lemari, tapi dia tidak boleh memakai kursi atau menggunakan sesuatu yang bisa membantunya.
UmmiUmmi.Com telah menyajikan delapan seri tulisan Kecerdasan pada Anak. Sebagai lanjutannya, kali ini UmmiUmmi.Com menyajikan sebuah artikel 7 Gaya Belajar Anak. Semoga bermanfaat untuk Bunda semua. Barakallahu fikunna.
***
(1) Gaya belajar linguistik
  • Berpikir: Dalam kata-kata.
  • Menyukai: Membaca, menulis, menceritakan, bermain kata-kata, dsb.
  • Membutuhkan: Buku-buku, kertas, diary, dialog, diskusi, cerita-cerita, dsb.
(2) Gaya belajar logika-matematis
  • Berpikir: Dengan menalar.
  • Menyukai: Bereksperimen, menanyakan, mengatasi teka-teki logika, menghitung, dsb.
  • Membutuhkan: Benda-benda yang dapat diselidiki dan dipikirkan, materi-materi ilmiah yang dapat diutak-atik, kunjungan ke planetarium atau museum ilmiah.
(3) Gaya belajar ruang
  • Berpikir: Gambar-gambar.
  • Menyukai : Merancang, menggambar, memvisualisasikan, dsb.
  • Membutuhkan : Seni, logo, video, film, slide, permainan imaginasi, maze, puzzle, buku-buku ilustrasi, kunjungan ke museum.
(4) Gaya belajar fisik
  • Berpikir: Melalui sensasi somatik.
  • Menyukai: Berlari, melompat, membangun, menyentuh, dsb.
  • Membutuhkan: Permainan peran, drama, gerakan, benda-benda yang bisa dibangun, olah raga dan permainan fisik, dsb.
(5) Gaya belajar interpersonal
  • Berpikir: Dengan memantulkan ide-ide mereka terhadap orang lain.
  • Menyukai: Memimpin, berorganisasi, berelasi, menengahi, dsb.
  • Membutuhkan: Kawan, kelompok permainan, perkumpulan sosial, acara komunitas, atau klub.
(6) Gaya belajar pribadi
  • Berpikir: Jauh ke dalam dirinya.
  • Menyukai: Membentuk tujuan, menyendiri, bermimpi, berdiam diri, dan berencana.
  • Membutuhkan: Tempat-tempat rahasia, waktu sendirian, proyek-proyek pribadi, pilihan-pilihan.
(7) Gaya belajar alam
  • Berpikir: Dengan analogi yang ada di alam.
  • Menyukai: Berada di alam.
  • Membutuhkan : Bereksplorasi bebas, berhubungan, dan menyentuh tanah, air, hewan, dan angin.
**
Referensi: Kumpulan beberapa materi Diklat PAUD yang diselenggarakan oleh HIMPAUDI Kab. Bantul tahun 2009.

Oleh: Athirah Mustadjab
Artikel 
UmmiUmmi.Com

Tahukah Anda Pohon Kurma Menangis

                                                      Tahukah Anda kisah batang pohon kurma yang menangis?
anak-menangis-hadits-pohon-kurma-menangis
Bukan, ini bukan kisah fiktif atau sekedar dongeng pengantar tidur. Kisah ini benar-benar terjadi di zaman nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diceritakan oleh banyak sahabat sehingga mencapai derajaat hadits mutawattir.

Cukupkah Dengan Pendidikan berkarakter..!!


Saya kira hampir semua pendidik mengenal istilah ini, istilah yang berkembang dalam dunia pendidikan zaman ini, istilah yang mashur dikenal dilembaga-lembaga pendidikan. Namun apakah cukup dengan pendidikan karakter saja?? Mari kita lihat!

Kasih Sayang Tak Akan Terkalahkan

"Secanggih apapun Teknologi Layar sentuh yang kita miliki atau kita berikan pada anak tidak akan pernah bisa menggantikan sentuhan kasih sayang kita pada anak-anak kita."
Percayalah !!
-ayah edy-

Pendidikan itu Membentuk Akhlak Bukan Hanya Kepintaran

Pendidikan bertujuan membangun etika, moral (budi pekerti), sedangkan Pengajaran bersifat transfer knowledge/memberitahu dengan tujuan membangun intelektualitas. Selama ini sekolah hanya memberikan pengajaran, tetapi kurang memberikan pendidikan, atau mungkin memberikan dalam porsi kecil, bukan sebagai muatan utama. Dan bila terjadi masalah budi pekerti, kebanyakan sekolah akan melimpahkan tanggungjawab pada orangtua, padahal orangtua sendiri sudah merasa menyerahkan pendidikan sang anak kepada sekolah.[ https://jejakembunpagi.wordpress.com/2015/03/05/pilih-anak-pintar-atau-anak-berkarakter-atau-anak-pintar-dan-berkarakter-bagian-1/]
 

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.